Gara-Gara Kasus Ini, Jenderal Hoegeng yang Dikenal Polisi Jujur Lengser dari Jabatan Kapolri : Okezone Nasional

Uncategorized83 Dilihat

JAKARTA-Mantan Kapolri Jenderal Hoegeng Iman Santoso, dikenal memiliki kesederhanaan, kejujuran, dan sikap tanpa kompromi di setiap jabatan yang diembannya.




Dalam debat tahun 2006 bertajuk “Membongkar dan Merevitalisasi Indonesia” di Bentara Budaya, Jakarta, Presiden Indonesia ke-4, Abdulrahman Wahid atau Gas Dur, sempat bercanda.

“Hanya ada 3 polisi jujur di negeri ini: polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng,” kata Gus Dur saat itu.

Gurauan Gus Dur mencerminkan bahwa sosok Jenderal Hoegeng tentunya merupakan sosok polisi yang langka di Indonesia karena kejujuran dan idealismenya.

Pada 1960-an, saat menjabat sebagai Menteri Negara (1964-1966), Hoegeng pernah menolak permintaan Presiden Soekarno.

Saat itu, Soekarno ingin mengimpor banyak barang untuk membangun rumah yang kemudian dikenal dengan Wisma Yaso di Jakarta.

Harapannya barang tersebut bisa masuk dari luar negeri dalam proses birokrasi yang tidak ribet dan berbiaya rendah. Untuk memuaskan keinginan itu, kata Hoegeng, hanya ada dua cara yang bisa dilakukan Bung Karno.

Pertama, buat surat perintah kepadanya agar proses impor bisa dilakukan dengan mudah dan bebas pajak. Kedua, membuat surat kepada Korea Utara untuk mengubah undang-undang agar tidak perlu mengklaim barang impor.

Di era orde baru, saat diangkat menjadi Menteri/ Panglima Angkatan Polisi (Pangak) atau Kapolri, Hoegeng menolak berbagai fasilitas, termasuk rumah dinas dan pengawalan.

Hoegeng juga tidak segan-segan menindak siapa saja yang melanggar hukum, meski dekat atau dilindungi pejabat.

Selama menjabat sebagai Kapolri, Hoegeng bereaksi dengan mengarahkan seluruh Kapolda dan Satpam Pelabuhan untuk mencatat kekayaannya.

Pada akhir 1960-an, Hoegeng juga menemukan kasus penyelundupan mobil mewah yang melibatkan pengusaha Robby Tjahjadi, yang dikenal dekat dengan polisi, tentara, dan petugas bea cukai.

Baca Juga  Minggu Pagi, Gunung Lewotobi Laki-laki Kembali Semburkan Awan Panas 2 Kali : Okezone News

Dalam autobiografinya “Hoegeng, polisi: idaman dan kenyataan” (1993), ia menyatakan kerugian negara akibat penyelundupan mobil mewah bisa mencapai 716 juta rupiah.

Kasus penyelundupan mobil mulai terungkap. Kepala Polisi Hoegeng turun tangan untuk penyelidikan. Robby menerima hukuman penjara 10 tahun, tetapi dia hanya menjalani hukuman 2,5 tahun.


Follow Berita Okezone di Google News


Dapatkan berita up to date dengan semua berita terkini dari Okezone hanya dengan satu akun di
ORION, daftar sekarang dengan
klik disini
dan nantikan kejutan menarik lainnya


Segera setelah itu, Hoegeng dipecat pada bulan oktober tahun 1971. Seiring dengan berkembangnya kasus-kasus lainnya yaitu pemerkosaan Sam Kuning yang diyakini melibatkan anak-anak pejabat Yogyakarta.

Jenderal Hoegeng, yang menjadi kapolri sejak 1968, dipecat sebelum memasuki tahun 1971 atau usia pensiun.

Ia juga dilarang menghadiri pernikahan putra sahabatnya, Sumitro Djojohadikusumo, Prabowo Subianto dan Siti Hediati Hariyadi, putri Presiden Soeharto. Selain itu, Hoegeng juga dilarang mengikuti upacara Hari Bhayangkara, padahal Soeharto mendapat undangan hanya karena menghadiri acara tersebut.

Pembatasan Hoegeng menjadi lebih ketat setelah dia menjadi salah satu dari 50 penandatangan petisi, sekelompok orang yang kritis terhadap pemerintahan Soeharto.

Setelah petisi tersebut dirilis, acara musik senior TVRI The Hawai Senior bertemu dengan Hoegeng diberedel. Begitu pula acara diskusi yang dia selenggarakan di radio Elshinta.

Hoegeng bahkan masuk dalam daftar orang yang dilarang pergi ke luar negeri sehingga mempersulit pengobatan penyakitnya.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *